Menilik Manajemen Pendidikan dalam Implementasi Sekolah Rakyat di Kota Palangka Raya
ADMIN VOX MERDEKA
03 Oktober 2025, 14:03 WIB · Diperbarui 29 September 2026 14:36 WIB
Oleh: Christian Radiafilsan, SE., M.Pd (Dosen Program Studi Manajemen FKIP-UPR) Pendidikan sering disebut sebagai jalan pemutus rantai kemiskinan.
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak anak yang tertinggal dari akses pendidikan formal, baik karena faktor ekonomi, sosial, maupun geografis.
Menjawab persoalan ini, Kementerian Sosial Republik Indonesia meluncurkan program Sekolah Rakyat, yang salah satunya mulai diimplementasikan di Kota Palangka Raya.
Program ini bukan sekadar inisiatif lokal, melainkan kebijakan nasional yang berlandaskan Peraturan Menteri Sosial (Permensos) No. 7 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekolah Rakyat serta Permensos No.
11 Tahun 2025 tentang Tunjangan Profesi Guru Sekolah Rakyat. Sekolah Rakyat hadir dengan misi mulia, yaitu menyediakan pendidikan gratis dan menyeluruh bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang terdata dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Dalam implementasinya, sekolah ini tidak hanya menawarkan ruang belajar, tetapi juga fasilitas pendukung seperti asrama, seragam, dan makan harian.
Namun pertanyaannya adalah, bagaimana program ini dikelola agar dapat menjadi model pendidikan alternatif yang berkelanjutan di Palangka Raya? Sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya, Sekolah Rakyat menuntut sistem manajemen pendidikan yang jelas.
PASANG IKLAN
DI VOX MERDEKA
Jangkau lebih banyak pembaca di seluruh Indonesia
Beberapa aspek kunci yang perlu diperhatikan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan menyangkut bagaimana kurikulum ditentukan, apakah mengikuti standar pendidikan nasional, berbasis non-formal, atau mengintegrasikan kearifan lokal.
Pengorganisasian mempertanyakan siapa saja yang terlibat dalam struktur pengelola, apakah hanya relawan, ASN Kemensos, atau tenaga pengajar dari pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Pelaksanaan menyoroti proses belajar mengajar, apakah berbasis kelas formal, kompetensi, atau lebih fleksibel sesuai kebutuhan anak-anak sasaran.
Evaluasi menilai indikator keberhasilan, baik melalui ujian akademis, keterampilan hidup, maupun tolok ukur sosial seperti keberlanjutan anak dalam jenjang pendidikan berikutnya. Keempat aspek tersebut menjadi tolok ukur apakah Sekolah Rakyat mampu menjawab kebutuhan pendidikan anak-anak marjinal atau sekadar menjadi program sesaat.
Dukungan dari pemerintah daerah sangat penting, terutama dalam penyediaan lahan permanen dan infrastruktur. Perguruan tinggi berperan melalui riset, pendampingan manajemen, dan pengabdian mahasiswa, sementara dunia usaha dapat ikut berkontribusi melalui CSR.
Baca Juga
Di Tengah Kabut Asap, Kelas Digital Huma Betang Jadi Pusat Pantau Pendidikan Kalteng
Kolaborasi lintas pihak inilah yang akan menentukan keberhasilan program ini. Keberlanjutan Sekolah Rakyat sangat bergantung pada kualitas manajemen pendidikan.
Beberapa tantangan strategis yang perlu dijawab meliputi ketersediaan tenaga pengajar, jaminan pendanaan operasional, dan integrasi dengan sistem pendidikan formal.
Jawaban atas tantangan-tantangan ini akan menentukan apakah program ini benar-benar menjadi instrumen pemutus rantai kemiskinan atau hanya wacana sosial tanpa dampak signifikan. Sekolah Rakyat di Kota Palangka Raya mencerminkan upaya pemerintah untuk menjawab kesenjangan pendidikan melalui intervensi berbasis keadilan sosial.
Keberhasilan program ini bukan hanya ditentukan oleh niat baik pemerintah, tetapi juga oleh manajemen pendidikan yang solid, kolaborasi lintas pihak, dan komitmen keberlanjutan.
Dengan pengelolaan yang tepat, Sekolah Rakyat berpotensi menjadi solusi nyata bagi generasi yang membutuhkan akses pendidikan berkualitas. (R1)
Punya pertanyaan tentang berita ini?
Contoh pertanyaan:
Bagaimana menurut Anda tentang berita ini?
4.0 / 5 dari 3 rating
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Olahraga & Pendidikan
Di Tengah Kabut Asap, Kelas Digital Huma Betang Jadi Pusat Pantau Pendidikan Kalteng
Olahraga & Pendidikan
Jumlah Murid SMA-SMK di Kalteng Tembus 101 Ribu, Komitmen Disdik Perluas Akses Pendidikan Inklusif
Olahraga & Pendidikan
Kabut Asap Makin Pekat, Disdik Kalteng Imbau Siswa Perketat Prokes dan Batasi Aktivitas di Luar Rumah
Olahraga & Pendidikan