Dari Jombang, Tumbuh di Palangka Raya hingga Jadi Rektor UPR, Ini Perjalanan Prof Bhayu Rhama
ADMIN VOX MERDEKA
05 Oktober 2026, 14:50 WIB · Diperbarui 05 Oktober 2026 15:59 WIB
VOXMERDEKA.ID, PALANGKA RAYA – Perjalanan Prof. Dr. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D. menuju kursi Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026–2030 tidak dibangun dalam waktu singkat.
Sebelum dipercaya memimpin perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan Tengah tersebut, Bhayu menempuh perjalanan panjang sebagai akademisi, praktisi pariwisata, pengelola kampus, hingga Guru Besar Ilmu Pariwisata.
Prof. Bhayu terpilih sebagai Rektor UPR setelah meraih 37 suara dalam Pemilihan Rektor tahap kedua yang digelar di Aula Rahan UPR, Kamis (1/10/2026).
Dalam pemilihan tersebut, Bhayu mengungguli dua kandidat lainnya. Dr. Thea Farina, S.H., M.Kn. memperoleh 14 suara, sedangkan Dr. Leswara Neneng, S.Pd., M.Si. meraih 12 suara.
Total suara yang diperhitungkan mencapai 63 suara, terdiri atas 41 suara Senat UPR dengan bobot 65 persen dan 22 suara yang merupakan bobot suara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebesar 35 persen.
Ketua Senat UPR Prof. Dr. Petrus Poerwadi memastikan proses pemilihan berlangsung sesuai mekanisme yang ditetapkan. Setelah ditetapkan sebagai rektor terpilih, Bhayu dijadwalkan menjalani pelantikan di Jakarta pada Senin, 5 Oktober 2026.
Namun, sebelum sampai pada titik tersebut, ada perjalanan panjang yang membentuk sosok Bhayu Rhama.
Lahir di Jombang, Besar di Palangka Raya
Bhayu lahir di Jombang, Jawa Timur. Namun, masa kecil hingga pendidikan dasarnya banyak dihabiskan di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Dalam profil pribadinya, Bhayu menyebut perjalanan hidupnya dimulai dari Jombang, kemudian berlanjut ke Palangka Raya untuk tumbuh dan menempuh pendidikan. Ia pernah bersekolah di TK Tunas Rimba II, SD Katolik St. Don Bosco, hingga SMP Katolik St. Paulus.
Perjalanan pendidikannya kemudian membawa Bhayu ke Surakarta. Ia menempuh pendidikan di SMAN 1 Surakarta sebelum melanjutkan kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan meraih gelar sarjana teknik sipil pada 2001.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Bhayu sempat bekerja sebagai Project Manager pada sebuah perusahaan properti di Malang.
Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dan menjadi dosen tidak tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Duta Wacana pada 2005–2009.
Dari Teknik Sipil Berbelok ke Dunia Pariwisata
Meski latar pendidikan awalnya teknik sipil, perjalanan karier Bhayu justru semakin kuat di bidang pariwisata.
Ketika berada di Yogyakarta, ia mulai terlibat dalam sejumlah organisasi yang bergerak di sektor pariwisata, termasuk Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) dan Association of Indonesian Tour & Travel Agencies (ASITA).
Dari sinilah ketertarikannya terhadap pariwisata semakin berkembang.
Bhayu kemudian memilih pariwisata sebagai bidang yang ditekuni secara serius, bukan hanya sebagai praktisi, tetapi juga melalui jalur akademik dan penelitian.
PASANG IKLAN
DI VOX MERDEKA
Jangkau lebih banyak pembaca di seluruh Indonesia
Ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister di University of Wolverhampton, Inggris, pada 2002–2004 dengan bidang Manajemen Pariwisata.
Tidak berhenti di jenjang magister, Bhayu kembali mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan doktoral di University of Central Lancashire, Inggris, pada 2013–2017.
Pendidikan doktoralnya berfokus pada kebijakan pariwisata, khususnya ekowisata di kawasan taman nasional. Fokus tersebut kemudian menjadi salah satu bidang keilmuan yang melekat dalam kiprahnya sebagai akademisi.
Kembali ke Palangka Raya
Setelah perjalanan pendidikan dan pekerjaannya di sejumlah kota, Bhayu kembali ke Palangka Raya pada 2010.
Ia kemudian menjadi dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Palangka Raya dengan fokus pada kebijakan pariwisata.
Di lingkungan akademik, Bhayu juga aktif melakukan penelitian dan publikasi. Bidang yang menjadi perhatiannya antara lain kebijakan pariwisata, ekowisata, taman nasional, serta pembangunan pariwisata berkelanjutan. Data SINTA mencatat bidang keahliannya mencakup administrasi publik, kebijakan pariwisata, ekowisata, dan taman nasional.
Kiprahnya di dunia akademik kemudian mengantarkan Bhayu meraih jabatan akademik Guru Besar atau Profesor dalam bidang Ilmu Pariwisata.
Bagi Bhayu, pariwisata bukan semata-mata aktivitas perjalanan. Ia melihat bidang tersebut sebagai ruang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Prinsip itu pula yang kerap ia sampaikan melalui gagasan bahwa manusia pariwisata harus mampu berpikir untuk orang lain dan memberikan yang terbaik bagi lingkungannya.
Akademisi Sekaligus Praktisi Pariwisata
Di luar kampus, Bhayu juga aktif sebagai praktisi.
Profil pribadinya mencatat, ia mulai menjalankan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang perjalanan wisata melalui Barama Tour & Travel sejak 2004.
Konsistensinya di sektor pariwisata kemudian membuat Pemerintah Kota Palangka Raya mempercayakannya sebagai salah satu pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Palangka Raya sejak 2017.
Bhayu juga pernah dipercaya menjadi Ketua ASITA Kalimantan Tengah periode 2018–2023 serta Ketua Dewan Pengurus Cabang Komite Seni dan Budaya Nusantara Kota Palangka Raya periode 2020–2025.
Pengalaman tersebut membuat kiprah Bhayu tidak hanya berada di ruang kelas dan penelitian, tetapi juga bersentuhan langsung dengan dunia usaha, organisasi, kebijakan, serta pengembangan pariwisata daerah.
Dari Dosen, Wakil Dekan hingga Dekan FISIP
Karier Bhayu di UPR terus berkembang.
Sebelum menjadi dekan, ia pernah dipercaya sebagai Wakil Dekan II FISIP UPR yang membidangi umum dan keuangan.
Selanjutnya, Bhayu dipercaya memimpin FISIP UPR sebagai dekan periode 2023–2027. Posisi tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan kepemimpinannya di lingkungan perguruan tinggi.
Baca Juga
Usai Menang Pilrek UPR, Prof Bhayu: Kita Semua Keluarga, Saya Akan Rangkul Semua
Sebagai akademisi, ia juga terus mengembangkan kajian terkait kebijakan pariwisata. Sejumlah karya ilmiahnya membahas pengembangan sumber daya manusia pariwisata, ekowisata, pembangunan pariwisata berkelanjutan, hingga kerja sama pemerintah dan swasta dalam sektor pariwisata.
Guru Besar dan Kini Rektor UPR
Gelar Profesor kemudian menjadi salah satu capaian penting dalam perjalanan akademik Bhayu.
Status tersebut semakin menguatkan posisi Bhayu sebagai akademisi yang konsisten menekuni bidang pariwisata, khususnya kebijakan pariwisata dan ekowisata.
Dari posisi tersebut, Bhayu kemudian masuk dalam kontestasi Pemilihan Rektor UPR periode 2026–2030.
Hasilnya, dalam pemilihan tahap kedua pada 1 Oktober 2026, ia memperoleh 37 suara dari total 63 suara yang diperhitungkan.
Setelah dinyatakan menang, Bhayu menyampaikan komitmennya untuk merangkul seluruh sivitas akademika UPR, termasuk dua kandidat yang sebelumnya menjadi pesaingnya.
“UPR adalah rumah bersama. Teman-teman yang belum terpilih kita akan rangkul semua untuk menjadi satu dalam keluarga besar UPR,” kata Bhayu seusai pemilihan.
Ia menegaskan, terpilihnya sebagai rektor bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk membawa UPR menjadi lebih baik.
Membawa Semangat “Rumah Bersama”
Perjalanan Bhayu dari Jombang, tumbuh di Palangka Raya, menempuh pendidikan di Surakarta dan Yogyakarta, bekerja di Malang, mendalami pariwisata di Inggris, hingga kembali mengabdi di UPR menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju kursi rektor.
Pengalaman sebagai akademisi, peneliti, praktisi pariwisata, pengurus organisasi, wakil dekan, dekan, hingga Guru Besar menjadi modal yang kini dibawanya untuk memimpin UPR.
Dengan pelantikan yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 5 Oktober 2026, Bhayu akan memasuki babak baru sebagai Rektor UPR periode 2026–2030.
Tantangan di depan tentu tidak ringan. Namun, bagi Bhayu, kampus merupakan rumah bersama. Karena itu, kepemimpinan UPR ke depan ingin dibangun melalui kebersamaan dengan seluruh sivitas akademika.
Dari seorang anak yang tumbuh di Palangka Raya, akademisi yang menekuni kebijakan pariwisata, hingga Guru Besar dan kini dipercaya memimpin universitas, perjalanan Bhayu Rhama menjadi cerita tentang pendidikan, pengabdian, dan konsistensi menekuni bidang yang diyakininya dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. (RR)

Punya pertanyaan tentang berita ini?
Contoh pertanyaan:
Bagaimana menurut Anda tentang berita ini?
5.0 / 5 dari 1 rating
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
Usai Menang Pilrek UPR, Prof Bhayu: Kita Semua Keluarga, Saya Akan Rangkul Semua
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
Prof Bhayu Rhama Terpilih Jadi Rektor UPR 2026–2030, Unggul Telak 37 Suara
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
1.267 Lulusan UPR Dikukuhkan, Rektor Dorong Alumni Ambil Peran Hadapi Persoalan Kalteng
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA